Dialog di sebuah sekolah X antara Murid dan gurunya...
Guru: Kalian harus berprestasi, belajar yang baik dan tekun. Jangan main-main aja. Ujian sudah dekat.
Murid-Murid: Iya pak... (dalam hati berkata: "soooo typical")
Guru: Kalian tu harus bener-bener belajar yang baik. Dulu saya itu selalu belajar dengan tekun, saya nurut sama orangtua, saya ga pernah ranking 2 atau 3, selalu jadi yang pertama... Saya itu bla.. bla.. bla...
Seorang murid ngangkat tangan, nanya sama si Guru
Murid: Pak, saya mau tanya, misalnya kita semua sekelas belajar tekun dan bener-bener jago abis... Sampe-sampe semua ujian kita, semua tugas-tugas kita dapet 100 semua. Dan kita semua bisa jadi ranking 1. Ujung-ujungnya pasti kita semua diranking lagi berdasarkan Nama. Jadi kasian saya dong yang namanya Z. Saya pasti ranking terakhir? GItu?
Apa gunanya saya ranking tertinggi di kelas pak kalo saya bener-bener nantinya nggak bisa jadi pribadi yang baik? Kalo saya ujung-ujungnya korupsi? Dan apakah kalo misalnya saya dapet prestasi yang jelek di segi akademis di sekolah ini saya akan jadi orang yang terbelakang nantinya? Apa saya nggak bisa sukses? Kenapa bapak nggak bisa ngasih kami sebuah motivasi dan solusi supaya kita jadi diri kita yang terbaik? Supaya kita bener-bener bisa ngasih warna di kehidupan bangsa ini dengan cara kita sendiri? Terlepas dari berapa nilai Ujian Fisika saya? Ujian Biologi saya?
Kenapa bapak selalu hanya mendahulukan masalah ranking. Apa memang anak-anak yang punya ranking tertinggi akan dibangga-banggain , terus menjatuhkan yang nilainya dibawahnya? Apa itu nggak jadi lebih buruk pak?
Gimana dengan temen saya si XXXXX? Dia di usia muda udah punya prestasi yang bisa dibanggain negara ini, terlepas nilai-nilainya yang emang cukup-cukupan? Terus malah dia dibilang main-main dan nggak serius sekolah? Gitu?
Tolong bapak jelaskan....
--------------------------------------------------
Pada akhirnya, bisa kita tebak, cuma ada 2 kemungkinan respon si guru. Kalo dia memang dewasa, dia akan sadar kalo apa yang dia katakan kurang tepat, dan memberikan wawasan yang lebih luas bagi murid-muridnya.
Kemungkinan kedua adalah si bapak akan marah-marah, dan ngebentak-bentak si murid karena dianggap melawan si guru, dan menyinggung harga dirinya, terlepas dari apa yang dikatakan si murid mungkin ada benernya...
Di negara ini kita udah bisa menebak kemungkinan besar sosok guru yang bagaimana yang akan muncul.... Tenaga pendidik di negara ini terkadang masih tidak bisa menghargai kaum muda, dan tidak memberikan apresiasi yang cukup. Hal ini lah yang menyebabkan adanya kesenjangan yang cukup besar di kalangan para siswa Indonesia. Mematikan kompetisi, mengakibatkan yang pintar bisa makin maju, yang kurang pintar (namun berpotensi) akhirnya ditinggalkan dan dimatikan akibat cara pandangnya yang hanya tersangkut di aspek akademik saja.
Sosok guru yang seperti gw sebutkan di atas, saat ini jumlahnya udah nggak terhitung lagi...
Tapi sosok murid yang gw gambarkan diatas? gw masih menunggu kemunculannya... Gw masih menunggu gebrakannya...
~Buat para guru: Please deh... Akademik jelas memberikan manfaat yang besar bagi individu di negara ini. Skill professional dan teknis memang hanya dapat dinilai dari segi akademik. Academics, is a measure of one's technical skills. Namun Gw masih merasa bahwa pendidikan akhlak, etika dan pembentukan mindset yang sehat harus menjadi satu kesatuan dalam aspek pendidikan formal manapun. Dan disinilah kita lihat pada kenyataannya keadaan tidak seperti demikian.
Pandangan dan penghargaan atas prestasi akademik semata lebih banyak terjadi disini, dan itu yang sangat gw sayangkan. Kita sama-sama tahu dan sadar bahwa akademik itu penting, namun tidak menjamin kesuksesan pribadi / individu. Namun APAKAH itu yang kita lihat? Benarkah para tenaga pendidik TELAH BENAR-BENAR melepas pandangan bahwa nilai AKADEMIK adalah jaminan sukses?
Disinilah gw merasa janggal... Pendidikan di Indonesia, pada kenyataannya tidak memberikan wawasan yang sesuai. Akademik, ADALAH KUNCI SUKSES ANDA...
0 comments:
Post a Comment